Latest News

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Agustus 2016

kaji ulang kisah raja jeumpa dan asal muasal Bireuen

Menilik sejarah dan asal usul Kabupaten Bireuen rasanya tidak akan membuat kita bosan. Meski beragam literatur telah disajikan. Memasuki usia ke-15, saya melihat tidak ada salahnya bila kita mengulang kaji kembali sejarah itu.

kaji ulang kisah raja jeumpa dan asal
kaji ulang kisah raja jeumpa dan asal

Mungkin diantara kita telah banyak membaca berbagai literatur akademis tentang Kerajaan Jeumpa yang sering disebut sebagai asal muasal kabupaten ini. Bireuen yang dulunya lebih dikenal dengan nama Jeumpa.
Tapi pada tulisan kali ini, penulis mengajak pembaca untuk melihat dan menjumpai langsung salah satu saksi sejarah yang disebut-sebut punya ikatan silsilah langsung dengan keturunan Raja Jeumpa.
Ia adalah Muhammad Daud M. Thaib (72) atau sering disapa Bang Ulee Cot. Sebutan itu karena tempat tinggalnya berada persis di pinggir bukit (bahasa Aceh: cot) dengan ketinggian sekitar 10 meter. Di atas bukit itu adalah tempat bersemayamnya jenazah Tgk. Cot Cibrek.  

Muhammad Daud kini mendiami rumah bantuan Pemerintah Aceh bertipe 36 plus. Bantuan yang layak diberikan untuk seorang di antara ahli waris Raja Jeumpa. Ya, menurut pengakuan Muhammad Daud, ia adalah keturunan ke-9 dari Raja Jeumpa. Kepada kami, ia hanya ingat empat urutan silsilah di atasnya, yaitu: ayahnya M Taib, kemudian di atasnya berturut-turut: Peutua Hanafiah, Keuchik Ben Cut, dan Keujruen Sarah. Keujruen Sarah inilah yang diyakini mempunyai hubungan darah dengan Raja Jeumpa. 

Ia juga sempat bercerita sedikit tentang sejarah Raja Jeumpa. Dalam ceritanya ia menyebutkan kisah di tahun di tahun 2006, setahun setelah perdamaian Aceh. Saat itu pemuda asal Cirebon datang menemuinya. Setelah menyatakan maksudnya, ia kemudian diantar ke makam Raja Jeumpa. Di sanalah ia melazkan ayat kelima dari Surah Al-Fatihah. 
Iyya ka na’budu wa iyya ka nasta’in. “Engkaulah yang kami sembah, dan Engkaulah tempat kami memohon pertolongan.“ (QS. 1 : 5). 
“Pemuda itu meyakini inilah ayat dari surah yang menyelamatkan Aceh dan kehidupan umat manusia,” tutur Muhammad Daud menirukan ucapan pemuda asal Cirebon kepadanya. “Kita bersaudara, tapi selama ini seakan begitu jauh. Pak Cik, pesan saya, kita harus mengamalkannya dengan ikhlas agar Aceh tetap damai.” 

Saya juga sempat mendatangi makam Raja Jeumpa di Dusun Tgk. Keujruen. Areal makam yang telah dipagari besi dengan pondasi beton berwarna orange itu sekilas terasa asing bagi yang belum terbiasa. Kami sendiri saat sampai di depan makam yang kini berupa bukit dengan ketinggian sekitar 30 meter itu juga merasakan hal demikian. Apalagi dengan pohon-pohon besar nan rindang berumur ratusan tahun yang tumbuh di atasnya. Makam Raja Jeumpa itu sendiri kini hanya bisa ditandai dengan batu-batu besar yang ada di bukit tersebut.
 
Dalam ikhtisar Radja Jeumpa yang di tulis Ibrahim Abduh –disadurnya dari hikayat Radja Jeumpa— disebutkan, Kerajaan Islam Jeumpa sudah berdiri sejak sekitar abad ke-7 Masehi yang terletak di sekitar daerah perbukitan, mulai dari pinggir sungai Peudada di sebelah barat sampai Pante Krueng Peusangan di sebelah timur. 

Istana Raja Jeumpa terletak di Gampong Blang Seupeueng yang dipagari di sebelah utara. Itu artinya telah menempatkan Kerajaan Islam Jeumpa sebagai kerajaan Islam pertama di nusantara. Jauh sebelum Kerajaan Samudra Pasai berdiri. 

Namun, dalam catatan sejarah lainnya disebutkan, Kerajaan Islam Jeumpa baru berdiri sekitar abad ke-13, saat sebagian besar penduduk dan Raja Kerajaan Melayu Islam Champa di Vietnam bermigrasi ke Aceh karena diserang oleh Kerajaan China. 

Kedatangan Raja Champa pada waktu itu (abad ke-13) disambut dengan hangat oleh pihak Kerajaan Pasai. Atas izin Raja Pasai pula kemudian Raja Champa mendirikan Kerajaan Jeumpa. 

Dalam riwayat Raja Jeumpa (Sejarah Kegemilangan, Kemakmuran dan Kemajuan Kerajaan Jeumpa 14 Abad Silam) yang terpampang di dinding di dalam meunasah Blang Seupeng ditulis: Kabupaten Bireuen dalam catatan sejarah dikenal sebagai daerah Jeumpa. Dahulu Jeumpa merupakan sebuah kerajaan kecil di Aceh, terletak di di Desa Blang Seupeung, merupakan permukiman padat penduduk dengan Bandar Pelabuhan Besar yang terletak di Kuala Jeumpa. 

Pada awal tahun 1989 dua pemuda Cina, laki – laki dan perempuan mengunjungi makan Raja Jeumpa, kepada sesepuh desa mereka mengatakan berasal dari Indo Cina, Kamboja. Mereka sengaja datang ke lokasi kerajaan Jeumpa untuk mencari tongkat nenek moyangnya zaman dahulu. Konon tongkat emas Raja Cina tersebut jatuh dan hilang saat menyerbu kerajaan Jeumpa, yang kemudian ditemukan oleh Raja Jeumpa.

Kerajaan Jeumpa pernah diperangi oleh pasukan Cina, Thailand dan Kamboja. Mereka pernah menduduki benteng Blang Seupeueng. Disebutkan, peperangan tersebut terjadi karena Raja Cina menculik permaisuri Raja Jeumpa yang cantik jelita, Meureudom Ratna.

Permaisuri Raja Jeumpa itu berhasil mereka bawa kabur sampai ke Pahang (Malaysia). Namun kemudian Meureudoem Ratna berhasil dibawa kembali ke Blang Seupeueng. Setelah Panglima Prang Raja Kera yang berasal dari Ulee Kareung, Samalanga berhasil mengalahkan Raja Cina.

Makam Raja tersebut hanya ditandai dengan batu-batu besar yang berlokasi di dusun Tgk Keujruen, Desa Blang Seupeueng. Sedangkan makam isterinya, Maureudom Ratna, berada di Desa Kuala Jeumpa.

Raja Jeumpa adalah putra dari Abdullah dan Ratna Kumala, beliau dinobatkan menjadi Raja dan Ratna Keumala sebagai permaisuri di Negeri Blang Seupeung tersebut. Raja Abdullah kemudian menamakan Negeri yang dipimpinnya itu dengan nama “Jeumpa” sesuai dengan nama Negeri asalnya yang bernama “Kampia”, yang artinya harum.

Raja Abdullah mengatur strategi keamanan Kerajaan dengan mengadakan latihan perang bagi angkatan darat dan laut. Saat itu angkatan laut merupakan angkatan perang yang cukup diandalkan, yang dipimpin oleh seorang Laksamana Muda.

Raja Abdullah meninggal dunia dengan meninggalkan seorang istri dan dua orang anak, yaitu Siti Geulima dan Raja Jeumpa. Setelah Raja Jeumpa dewasa dia membangun benteng pertahanan di tepi Pantai Laksamana. Raja Jeumpa kemudian memperistri seorang putri anak Raja Muda yang Cantik Jelita bernama Meureundom Ratna dari Negeri Indra. Menurut catatan sejarah, Meureudom Ratna masih ada hubungan keluarga dengan Putri Bungsu.

Kakak Raja Jeumpa, Siti Geulima dipinang oleh seorang Raja di Darul Aman yang bernama Raja Bujang. Maka atas dasar perkawinan itu antara Kerajaan Jeumpa dengan Darul Aman  terjalin hubungan lebih erat. Sesuai dengan namanya “Darul Aman” yakni negeri yang aman sentosa.

Abad ke-13
Muhammad Daud meyakini Kerajaan Jeumpa berdiri pada abad ke-13. Hal itupula yang kami lihat di papan yang terpangpang di dalam meunasah Gampong Blang Seupeung. 

Sebenarnya, menurut pengakuan Muhammad Daud, keluarga mereka memiliki arakata Kerajaan Jeumpa. Arakata yang ditulis dalam huruf jawi itu mulanya disimpan oleh saudara Muhammad Daud, Imum Syik Muhammad Saleh. Namun, hilang saat konflik Aceh. “Ia (Imum Syik Muhammad Saleh, Red) adalah mantan aktivis GAM,” ujarnya. 

Pembicaraan kami kemudian berlanjut pada sisa-sisa artefak (penginggalan sejarah) yang mungkin masih tersisa dari Kerajaan Jeumpa. Ditemani isteri dan cucunya, Muhammad Daud kemudian bercerita tentang beberapa temuan saat salah satu bukit di sisi rumah mereka menetap sekarang di keruk dengan alat berat. 

“Ada pecahan kaca yang mungkin adalah piring atau peralatan/hiasan lainnya,” ujar Muhammad Daud. Saat diperlihatkan oleh isterinya kepada kami, sekilas benda berwarna putih bening sebesar telapak tangan orang dewasa itu berbentuk batu. Tapi, kalau sudah dipegang, sangat terasa ketajamannya. Benda itu sendiri kini memang tak benbentuk lagi. Ia layaknya bongkahan biasa.   

Muhammad Daud pun tak mempersoalkan bila ada yang mengatakan itu adalah bongkahan batu biasa. Namun, ia tetap meyakini bahwa itu adalah bukti bahwa Blang Seupeung dulunya adalah pusat (bandar) Kerajaan Jeumpa dengan penduduknya yang sangat padat. 

Ia menyebut, benda-benda seperti itu banyak ditemukan saat pengerukan bukit. Namun, karena minimnya pemahaman warga akan sejarah nenek moyangnya dulu, membuat benda-benda seperti itu dibiarkan begitu saja. “Malah kami juga menemukan karung-karung beras yang sudah hitam,” pungkasnya. “Tapi, nasibnya juga sama.” 

Hasil observasi dari peneliti lain sebelumnya malah telah menemukan beragam artefak lainnya, seperti kolam mandi kerajaan seluas 20 x 20 m, kaca jendela, porselin dan juga ditemukan semacam cincin dan kalung rantai yang panjangnya sampai ke lutut dan anting sebesar gelang tangan. Artefak itu ditemukan di dekat makam Raja Jeumpa.

Dasar Hukum
Berdasarkan data dari www.kemendagri.go.id disebutkan, Kabupaten Bireuen terbentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 48 Tahun 1999 dan Undang-undang Nomor 8 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 48 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Bireuen dan Kabupaten Simeulue (Lembar Negara Tahun2000 Nomor 75, Tambahan Lembar Negara Nomor 3963). 

Kabupaten ini memiliki Luas wilayah 1.901,21 Km2. Pada Tahun 2006, secara administratif Kabupaten Bireuen ini terdiri dari 17 Kecamatan , 70 Mukim serta 559 Desa dan 2 Kelurahan. Jumlah penduduk pada Tahun 2006 sebanyak 354.763 jiwa yang terdiri dari 174.258 laki-laki dan 180.505 perempuan dengan rasio jenis kelamin sebesar 0,97 atau dengan kata lain pada setiap seratus penduduk perempuan terdapat 97 orang.

Rata-rata kepadatan penduduk untuk setiap kilometer persegi adalah 187 jiwa. Kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk yang terendah adalah Pandrah 83 jiwa perkilometer persegi sedangkan kepadatan yang tertinggi terdapat di Kecamatan Peusangan yang mencapai 43.625 jiwa perkilometer persegi dan hampir seluruh penduduk Kabupaten Bireuen beragama Islam yakni mencapai 99,58 persen.

Asal Muasal Nama

Bireuen itu berasal dari Bahasa Arab yaitu asal katanya Birrun, artinya kebajikan, dan yang memberikan nama itu juga orang Arab pada saat Belanda masih berada di Aceh

Beragam asal usul nama Bireuen memang pernah diungkapkan oleh berbagai tokoh. Namun, Tgk. Sarong yang pernah menjadi komandan pertempuran Medan Area tahun 1946, yang saat itu diberi gelar Kowera (Komandan Perang Medan Area)sebagaimana ditulis di Narit yang dipost ulang di seputaraceh.com mengungkapkan, Bireuen itu berasal dari Bahasa Arab yaitu asal katanya Birrun, artinya kebajikan, dan yang memberikan nama itu juga orang Arab pada saat Belanda masih berada di Aceh.

Kala itu, orang Arab yang berada di Aceh mengadakan kenduri di Meuligoe Bupati sekarang. Saat itu, orang Arab pindahan dari Desa Pante Gajah, Peusangan, lalu mereka mengadakan kenduri. Kenduri itu merupakan kebajikan saat menjamu pasukan Belanda. Orang Arab menyebut kenduri itu Birrun. Sejak saat itulah nama Bireuen mulai dikenal.


Tgk. Sarong juga mengungkapkan, sebelum Bireuen jadi nama Kota Bireuen yang sekarang ini, dulu namanya Cot Hagu. Setelah peristiwa itulah, nama Cot Hagu menjadi nama Bireuen. Wallahua’lam bissawab. (*)

sumber teungkumalemi

Sabtu, 16 Juli 2016

Mengenang Bireuen Sebagai Ibukota RI

Mengenang Bireuen Sebagai Ibukota RI
Mengenang Bireuen Sebagai Ibukota RI

“Walau hanya seminggu, Bireuen pernah menjadi ibukota RI yang ketiga setelah Yogyakarta dan Bukittinggi jatuh ke tangan penjajah dalam agresi kedua Belanda. Namun sayangnya fakta sejarah itu tidak pernah tercatat dalam sejarah Kemerdekaan RI. Sebuah benang merah sejarah yang terputus…”

Sekilas, tidak ada yang terlalu istimewa di Pendopo Bupati Kabupaten Bireuen tersebut. Hanya sebuah bangunan semi permanen yang berarsitektur rumah adat Aceh. Namun siapa nyana, dibalik bangunan tua itu tersimpan sejarah perjuangan kemerdekaan RI yang tidak boleh dilupakan begitu saja. Malah,di sana pernah menjadi tempat pengasingan presiden Soekarno.





Kedatangan presiden pertama RI itu ke Bireuen memang sangat fenomenal. Waktu itu, tahun 1948, Belanda melancarkan agresi keduanya terhadap Yogyakarta. Dalam waktu sekejap ibukota RI kedua itu jatuh dan dikuasai Belanda. Presiden pertama Soekarno yang ketika itu berdomisili dan mengendalikan pemerintahan di sana pun harus kalang kabut. Tidak ada pilihan lain, presiden Soekarno terpaksa mengasingkan diri ke Aceh. Tepatnya di Bireuen,yang relatif aman. Soekarno hijrah ke Bireuen dengan menumpang pesawat udara Dakota. Pesawat udara khusus yang dipiloti Teuku Iskandar itu, mendarat dengan mulus di lapangan terbang sipil Cot Gapu pada Juni 1948.
Kedatangan rombongan presidendi sambut Gubernur Militer Aceh, Teungku Daud Beureu’eh, atau yang akrab disapa Abu Daud Beureueh, Panglima Divisi X, Kolonel Hussein Joesoef, para perwira militer Divisi X, alim ulama dan para tokoh masyarakat. Tidak ketinggalan anak-anak Sekolah Rakyat (SR) juga ikut menyambut kedatangan presiden sekaligus PanglimaTertinggi Militer itu.
Malam harinya di lapangan terbang Cot Gapu diselenggarakan Leising (rapat umum) akbar. Presiden Soekarno dengan ciri khasnya, berpidato berapi-api, membakar semangat juang rakyat di Keresidenan Bireuen yang membludak lapangan terbang Cot Gapu. Masyarakat Bireuen sangat bangga dan berbahagia sekali dapat bertemu mukadan mendengar langsung pidato presiden Soekarno tentang agresi Belanda 1947-1948 yang telah menguasaikembali Sumatera Timur(Sumatera Utara) sekarang.
Mengenang Bireuen Sebagai Ibukota RI
Mengenang Bireuen Sebagai Ibukota RI
Asal Muasal Sebutan Bireuen Sebagai Kota Juang
Selama seminggu Presiden Soekarno berada di Bireuen aktivitas Republik dipusatkan di Bireuen. Dia menginap dan mengendalikan pemerintahan RI di rumah kediaman Kolonel Hussein Joesoef, Panglima Divisi X Komandemen Sumatera, Langkat dan tanah Karo, di Kantor Divisi X (Pendopo Bupati Bireuen sekarang). Jelasnya, dalam keadaan darurat, Bireuen pernah menjadi ibukota RI ketiga, setelah jatuhnya Yogyakarta ke dalam kekuasaan Belanda. Sayangnya catatan sejarah ini tidak pernah tersurat dalam sejarah kemerdekaan RI.
emang diakui atau tidak, peran dan pengorbanan rakyat Aceh atau Bireuen pada khususnya dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Republik ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Perjalanan sejarah membuktikannya. Di zaman Revolusi 1945, kemiliteran Aceh dipusatkan di Bireuen.Di bawah Divisi X Komandemen Sumatera Langkat dan Tanah Karo dibawah pimpinan Panglima Kolonel Hussein Joesoef berkedudukan di Bireuen. Pendopo Bupati Bireuen sekarang adalah sebagai kantor DivisiX dan rumah kediaman Panglima Kolonel Hussein Joesoef. Waktu itu Bireuen dijadikan sebagai pusat perjuangan dalam menghadapi setiap serangan musuh. Karena itu pula sampai sekarang, Bireuen mendapat julukan sebagai “Kota Juang”.
Kemiliteran Aceh yang sebelumnya di Kutaradja, kemudian dipusatkan di Juli Keude Dua (Sekitar tiga kilometer jaraknya sebelah selatan Bireuen-red) di bawah Komando Panglima Divisi X, Kolonel HusseinJoesoef, yang membawahi Komandemen Sumatera, Langkat danTanah Karo. Dipilihnya Bireuen sebagaipusat kemiliteran Aceh, lantaran letaknya yang sangat strategis dalam mengatur strategi militer untuk memblokade serangan Belanda di Medan Area yang telah menguasai Sumatera Timur.
Pasukan tempur Divisi X Komandemen Sumatera yang bermarkas di Juli Keudee Dua, Bireuen, itu silih berganti dikirim ke Medan Area. Termasuk diantaranya pasukan tank dibawah pimpinan Letnan Yusuf Ahmad, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Letnan Yusuf Tank. Sekarang dia sudah Purnawirawan dan bertempat tinggal di Juli Keude Dua, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen. Menurut Yusuf Tank, waktu itu pasukan Divisi X mempunyai puluhan unit mobil tank. Peralatan perang itu merupakan hasil rampasantank tentara Jepang yang bermarkas di Juli Keude Dua.
Mengenang Bireuen Sebagai Ibukota RI
Mengenang Bireuen Sebagai Ibukota RI
Dengan tank-tank itulah pasukan Divisi X mempertahankan Republik ini di Medan Area pada masa agresi Belanda pertama dan kedua tahun 1947-1948. Juli Keude Dua juga memiliki nilai historis kemiliteran penting dalam mempertahakan Republik. Terutama di zaman Revolusi 1945. Pendidikan Perwira Militer (Vandrecht), yakni untuk mendidik perwira-perwira yang tangguh di pusatkan di Juli Keude Dua.

Kendati usianya sudah uzur, Yusuf Tank masih dapat mengingat berbagai semua peristiwa sukaduka perjuangannya masa silam. Salah satu diantaranya tentang peranan Radio Rimba Raya milik DivisiX Komandemen Sumatera yang mengudara ke seluruh dunia dalam enam bahasa, Indonesia, Inggris, Urdu, Cina, belanda dan bahasa Arab. Dikatakan, “Radio Rimba Raya mengudara ke seluruh dunia 20 Desember 1948 untuk memblokade siaran propaganda Radio Hervenzent Belanda di Batavia yang yang menyiarkan bahwa Indonesia sudah tidak ada lagi. Dalam siaran bohong Radio Belanda seluruh wilayah nusantara sudah habis dikuasai Belanda. Padahal, Aceh masih tetap utuh dan tak pernah berhasil dikuasai Belanda.

Mengenang Bireuen Sebagai Ibukota RI
Mengenang Bireuen Sebagai Ibukota RI
Dengan mengudaranya Radio Rimba Raya ke seluruh dunia, masyarakat dunia sudah mengetahui secara jelas bahwa Indonesia sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945. Karena itu, saat kedatangan Presiden Soekarno ke Bireuen bulanJuni 1948, dalam pidatonya yang berapi-api di lapangan terbangCot Gapu, Soekarno mengatakan,Aceh yang tidak mampu dikuasai Belanda dijadikan sebagai Daerah Modal Republik Indonesia. Selama seminggu Presiden Soekarno berada di Bireuen, kemudian bersama Gubernur Militer Aceh Abu Daud Beureueh berangkat ke Kutaradja. Di Kutaradja Gubernur Milter Aceh mengundang seluruh saudagar Aceh di hotel Aceh. Dia menyampaikan permintaan Presiden Soekarno agar rakyat Ace hmenyumbang dua pesawat terbang untuk Republik.
Presiden Soekarno sempat mogok makan siang alias Ngambek sebelum Abu Beureu’eh memberi jawaban, menyetujui permintaannya itu agar Aceh menyumbang dua pesawat terbang. Kesepakatan para saudagarAceh dengan Abu Daud Beureu’eh, mereka bersedia menyumbang dua pesawat terbang untuk Republik. Dengan sumber dana obligasi rakyat Aceh, yakni Pesawat Seulawah I dan Seulawah II. Kedua pesawat terbang sumbangan rakyat Aceh itu adalah sebagai cikal bakal pesawat Garuda Indonesia Airways saat ini. Sedangkan Radio Rimba Raya adalah sebagai cikal bakal Radio RRI sekarang. ***
Mengenang Bireuen Sebagai Ibukota RI
Mengenang Bireuen Sebagai Ibukota RI


sumber http://soalaceh.tumblr.com/post/30780172961/mengenang-bireuen-sebagai-ibukota-ri

Jumat, 01 Juli 2016

Masjid Teungku Di Anjong, Situs Sejarah Islam di Banda Aceh

BANDA ACEH – Berdiri sejak abad ke-18 silam, Masjid Teungku di Anjong masuk dalam pembabakan penting perkembangan Islam di Aceh dan Nusantara.
Adalah Sayyid Abu Bakar Bin Husin Bafaqih, seorang ulama dari jazirah Arab yang mengembara mendakwahkan Islam dan mewakafkan tanah untuk mendirikan masjid di atas lahan yang dulunya merupakan dayah (pesantren salafi).

Pesantren ini pernah dibakar oleh Belanda karena dianggap sebagai pusat doktrin anti penjajahan, Kini jasadnya dimakamkan di kompleks Masjid yang berlokasi di Desa Peulanggahan Kecamatan Kutaraja Kota Banda Aceh.

Bersisian dengan sang istri, seorang Syarifah dari Hadhramaut,  Negeri Yaman, tempat keduanya berasal.
Makam tersebut kerap menjadi tujuan peziarah dari Malaysia, Singapura, Persia, dan Yaman.

Masih dalam kompleks masjid, terdapat pemakaman umum milik warga desa setempat.

Masjid ini juga tak luput disapu tsunami pada pengujung 2004 lalu.

Hingga hanya menyisakan kompleks makam ulama dan kerabat dari tanah Arab itu serta mimbar.
Untuk meletarikan situs sejarah Islam di Banda Aceh, masyarakat Peulanggahan masih tetap menjaga bentuk bangunan masjid tersebut seperti sedia kala.
Masjid dan makam ini kembali dibangun oleh BRR Aceh pada tahun 2009 dengan struktur beton.

Namun tetap menjaga bentuk awalnya dengan tambahan sarana lainnya seperti halaman aspal dan tempat wudhuk.

Menurut catatan peristiwa tersebut hanya menyisakan 700-an jiwa dari 4.000-an  jiwa penduduk desa setempat.
Untuk mengenang mahaduka itu, didirikan sebuah tugu  di sisi masjid sebagai pengingat kepada generasi selanjutnya.

“Pada setiap 14 Ramadhan diadakan haul bertepatan dengan meninggal Teungku Di Anjong,” terang penjaga makam, Fahmi kepada Tribun Travel.
Ya, sekilas arsitektur Masjid Teungku Di Anjong ini mirip Masjid Demak, di Jawa Tengah.

Masjid yang dikenal menjadi tempat berhimpunnya walisongo dan menjadi pembabakan penting penyebaran Islam di tanah Jawa.
Arsitektur Masjid Teungku Di Anjong berupa bangunan induk yang dilengkapi serambi dengan tiga lantai yang mempunyai makna filosofi.
Lantai pertama disebut dengan hakikat, lantai kedua tarekat, dan lantai ketiga makfirat.

Teungku berasal dari bahasa lokal yang bermakna ustad.

Gelar Teungku Di Anjong disematkan karena kebiasaan Sayyid Abu Bakar Bin Husin Bafaqih beribadah di anjungan masjid.

Di Anjong juga bermakna ‘disanjung’ atau ‘dimuliakan’
Teungku Di Anjong adalah seorang ulama besar yang hidup pada masa Kerajaan Aceh di bawah pimpinan Sultan Alauddin Mahmud Syah (1760 -  1781 M).
Dikenal sebagai ulama tasawuf,  juga  berperan sebagai ulama fikih dan telah membimbing manasik haji bagi calon-calon jamaah baik dari dalam wilayah kesultanan Aceh, Sumatera,  Jawa, bahkan juga jamaah dari Semenanjung Malaya yang akan menunaikan ibadah haji melalui Aceh.

Bisa dikatakan bahwa gelar Aceh Serambi Mekah sangat erat kaitannya dengan peran Tengku Di Anjong dalam membimbing jamah haji yang mendapatkan dukungan kerajaan Aceh pada masa itu. (*)

Penulis: Nurul Hayati
Editor: Yusmadi
Sumber: Serambi Indonesia   

Sejarah Kereta Api di Aceh

Sejarah Kereta Api di Aceh
Monumen Atjeh Tram di Banda Aceh, Foto Raihan Lubis (Juli 2012)

Pada tahun 1970 Kota Banda Aceh masih menggunakan kereta api sebagai salah satu sarana transportasi. Kereta api ini mencapai rute hingga Kota Medan di Sumatra Utara. Kini Lokomotif dan salah satu gerbong barang dari kereta api tersebut dibuat menjadi Monumen Kereta Api yang berada di Jl. Sultan A. Mahmudsyah (halaman swalayan Barata) Banda Aceh, dan menjadi salah satu sejarah transportasi di Aceh.
Sejarah pembangunan kereta api Aceh sangat unik, berbeda dari daerah lain. Perbedaan ini disebabkan tujuan awal pembangunan kereta api dan siapa saja yang memanfaatkannya. Kereta api Aceh mulanya dibangun sebagai sarana mengangkut peralatan militer dari pelabuhan Ulee Lheue ke Kutaraja atau Banda Aceh. Dengan kata lain kereta api dibangun untuk kepentingan perang daripada kepentingan ekonomi dan sosial. Hingga pada akhirnya juga memberikan keuntungan ekonomi dan politik yang besar.


Sejarah Kereta Api di Aceh
Stasiun Kutaraja, 1895. Foto Koleksi Tropen Museum







Kronologis Pembangunan Kereta Api Aceh (Atjeh Tram)

Gubernur Aceh dan daerah taklukannya memerintahkan untuk menghubungkan tempat demarkasi pelabuhan Ulee Lheue dan Kutaraja dengan rel kereta api sepanjang 5 km dengan lebar spoor (rel) 1,067 meter.
26 Juni 1874
12 Agustus 1876
Jalan kereta api Ulee Lheue resmi dibuka untuk umum dengan menghabiskan biaya 540.000 golden.

Sejarah Kereta Api di Aceh
Atjeh Tram di atas jembatan Demmeni di Kutaraja(Banda Aceh) sekitar tahun 1895, sumber foto : KITLV Leiden
tahun 1982
Transportasi kereta api di Aceh dengan nama Atjeh Tram (AT) masih sebagai sarana mengangkut peralatan militer dari pelabuhan Ulee Lheue ke Kutaradaja – nama Banda Aceh saat itu. Gerbong-gerbong kereta Atjeh Tram saat itu didatangkan dari Jerman. Rel-rel kereta yang dibangun menyatukan jalur menuju benteng pertahanan Belanda yang satu dengan yang lainnya. Selain mengangkut serdadu dan logistik seperti kuda dan juga peralatan tempur lainnya, Belanda juga punya kepentingan untuk terus memperkuat pertahanannya dengan mengawasi seluruh kawasan yang dilintasinya.Jalur kereta api diteruskan hingga Gle Kameng-Indrapuri, namun hanya mampu mencapai Lambaro dengan alasan keamanan. Lebar spoor dikurangi menjadi 0,75 m dengan panjang 16 km.
Tahun 1886
Dibuka jalur dari Kutaraja – Lamnyong, sebuah jalur dari Tongah ke Pekan Kr. Cut dan rumah sakit militer Pante Pirak. Jalur ini digunakan untuk membawa orang luka dan sakit dari pos militer ke luar Aceh.
28 Januari 1889
sebuah granat diledakkan para pejuang Aceh di lintasan rel kereta api di kawasan Lamara yang menuju ke Lampenerut. Tak hanya itu, jembatan kemudian juga dibakar. Akibat kejadian ini, Belanda memutuskan untuk tidak menyambung rel kereta ke beberapa kawasan karena kerusakan yang berulang kali akibat serangan para pejuang Aceh. Alasan lain, para pekerja yang didatangkan dari Jawa dan juga para serdadu yang mengawasi pembangunan rel sering mendapat serangan dari para pejuang Aceh.

Sejarah Kereta Api di Aceh
tramlijkwagen (Kereta pengangkut jenazah untuk para serdadu Belanda). Foto Koleksi Tropen Museum
Januari 1898
Jalur kereta api diperpanjang hingga mencapai Seulimuem sepanjang 18 km dan dimanfaatkan untuk lalu lintas umum.
Tahun 1900
Gubernur Van Heutzs merencanakan perluasan jalur kereta api Seulimuem-Sigli-Lhokseumawe. Biaya ditaksir untuk membangun jalur ini sebesar 3 juta golden, biaya terbesar untuk membuat lintasan di pegunungan yang sangat berat.
15 September 1903
Jalur Beureneuen – Lameulo sepanjang 5 km siap dikerjakan dan dibuka untuk umum.
Tahun 1912
Pertemuan jalur kereta api lintasan Deli Pangkalan Berandan – Aceh dimulai. Jalur kereta api Langsa – Kuala Simpang resmi dibuka untuk umum
Tahun 1916
ketika situasi di Aceh sudah mulai benar-benar dapat dikuasi Belanda, pengawasan kereta api tidak lagi di bawah kekuasaan militer, tapi sudah mulai ditangani pihak sipil. Seiring itu, nama Atjeh Tram kemudian berganti nama menjadi Atjeh Staats Spoorwegen (ASS). Singkatan ini kemudian diplesetkan pada zaman itu menjadi Asal Sampai Sadja (ASS).
Tanggal 29 Desember 1919
Persambungan kereta api Deli Spoorweg Maatschappij dengan lintas Aceh diresmikan pemakaiannya. Total panjang jalur kereta api Aceh 450 km dengan total biaya 23 juta Golden. Perjalanan dari Medan menuju Kutaraja ( Banda Aceh) memakan waktu 2 hari perjalanan.
Tahun 1930
kereta api yang ada di Aceh beroperasi dengan titik pemberangkatan dari kota Medan dan biasanya dimulai pada pagi hari, kereta akan berjalan ke arah utara melalui tempat pengilangan minyak BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij) Pangkalan Brandan. Di perbatasan Aceh, yaitu di Besitang, jenis kereta api diganti dari kereta api DSM dengan kereta api Aceh Atjeh Tram yang mempunyai jalur lebih sempit dan gerbong lebih kecil. Perjalanan hingga Langsa melalui daerah-daerah perkebunan karet. Pemandangan kampung-kampung dengan pohon-pohon kelapa dan pisang, rumpun bambu yang rimbun dan persawahan menjadi hiburan tersendiri bagi pengguna kereta api.
Di sepanjang perjalanan banyak dijumpai stasion-stasion kecil. Pada pukul 18.00 sore kereta api sampai di Lhokseumawe, selanjutnya keesokan harinya pada pukul 13.00 siang tiba di stasion Sigli. Di Padang Tiji kereta api berhenti selama + 10 menit untuk ganti lokomotif yang lebih kuat, sebab jalan mulai menanjak melalui batas air antara gunung Seulawah Agam dan gunung Seulawah Inong yaitu melewati krueng Empat Puluh Empat. Pukul 15.00 kereta api berangkat dari Seulimum melalui Indrapuri menuju Lambaro, di Lambaro kondektur kembali memeriksa karcis penumpang. Pada pukul 18.00 sore kereta api baru tiba di stasion Kutaradja. Jadi perjalanan dengan memakai kereta api untuk lintas Medan – Kutaradja memakan waktu selama 2 hari!
Setelah Indonesia merdeka, transportasi kereta api di Aceh terus digunakan.  Majalah Tempo pada edisi Oktober tahun 1972  melaporkan :  kereta api Aceh hanya mampu merangkak 25 Km per jam. Tidak aneh, sebab seluruh onderdil, rel, gerbong dan lok yang ada kecuali 8 lok diesel mini sumbangan Frans Seda dan 10 lok pampasan dari Jepang masih warisan ASM (Atjehs Staatsspoormaatschappij) se abad yang lalu. Sementara tahun berganti tahun, sudah lama kereta api tidak menjadi alat angkutan darat yang terpenting di Aceh. Seperti dikatakan Kepala PNKA (Perusahaan Negara Kereta Api) Eksploitasi Aceh, M, Djunaed yang hanya mampu mengumpulkan uang karcis 2 juta rupiah tiap bulan, “sekarang saingan datang dari jalan raya”. Maksudnya: bis, trek dan mobil-mobil lain.
Untuk keperluan dalam kota, trayek kereta api terbatas sekali. Cuma antara stasiun Kutaraja dan stasiun Ulheu Lheu. Relnya membentang mulai dari stasiun, melalui Jalan Diponegoro, menyeberangi Jalan Merduati, masuk ke Lampaseh, melewati Deah Alue, Deah Baro, lalu stasiun Ulheu Lheu. Di Pasar Aceh, ada sebuah halte, sehingga penumpang bisa naik dan turun di situ.
Tahun 1982
Banda Aceh resmi sudah tidak memiliki hubungan kereta api lagi. Hal ini dikarenakan tidak mampu bersaing dengan sarana transportasi jalan raya yang sudah semakin baik dan onderdil yang semakin sulit dicari.
Tahun 1998-2004
Pascareformasi 1998, BJ Habibie presiden kala itu mengeluarkan janji politik kepada masyarakat Aceh. Salah satu janjinya menghidupkan kembali  jalur kereta api. Pasca janji tersebut, pada tahun 2002 dibuatlah Rencana Umum Pengembangan Kereta Api Sumatera, yang merupakan hasil kesepakatan Gubernur se-Sumatera.
Program Perkeretaapian Aceh merupakan bagian dari program Trans Sumatera Railway Development. Program ini disiapkan pemerintah dengan bantuan konsultan asing Mott McDonald dan SNCF Internasional. Pembangunan jalan kereta api Aceh dianggap solusi tepat saat ini dan juga di masa depan, di mana angkutan kereta api ini bersifat massal, murah, aman dan efektif. Pembangunan kembali jaringan pelayanan kereta api Aceh diyakini memberikan dampak positif bagi masyarakat khususnya masyarakat Aceh.
Pelayanan tersebut akan semakin membuka dan menghubungkan kota-kota di Aceh dengan kota-kota di Sumatera Utara. Lintas jaringan tersebut juga nantinya akan terhubung dengan jaringan baru yang menghubungkan kota-kota di provinsi Riau, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Lampung dalam satu kesatuan sistem Trans Sumatera Railway.
Pada 1998 melalui dana APBN murni dibangun kembali relnya di kawasan Aceh Tamiang. Pembangunan rel yang sudah dibangun sepanjang 32 km dilaksanakan hingga 2004. Proyek ini dihentikan akibat musibah tsunami yang kemudian dilanjutkan lagi pada 2007.
Tahun 2007-2008
Pembangunan lanjutan rel kereta api 2007-2008 tidak dimulai dari Aceh Tamiang, tetapi dari Krueng Mane, Kabupaten Aceh Utara hingga Cunda, Kota Lhokseumawe sepanjang 28 km.
Tahun 2009
Dalam program lanjutan tahun 2009, Departemen Perhubungan menyediakan dana Rp32 miliar yang akan digunakan membangun fasilitas pendukung pada proyek 2007-2008 untuk operasional, seperti kantor dan stasiun.

Sejarah Kereta Api di Aceh
Kereta api parkir di Stasiun Bungkaih, Lhokseumawe
SAAT INI
Sempat ditempatkan di Krueng Geukueh, gerbong kereta yang diproduksi oleh PT INKA saat ini digudangkan di Kompleks Stasiun Kereta Api di Desa Ulee Madon, Bungkah, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara.
Sejak tiba di pelabuhan Krueng Geukueh, Desember 2008 lalu, kereta api seharga Rp 19,5 miliar itu baru sekali keluar kandang, yaitu saat uji coba pertengahan tahun 2011 . Setelah itu, kereta pun kembali masuk gudang.
Ini bukan kereta api biasa. Meski dibuat oleh PT Industri Kereta Api (INKA) di Madiun, Jawa Timur, mesin diesel dan remnya dipesan khusus dari Jerman, Prancis, dan Singapura. Berkapasitas 64 kursi dan memuat 200 penumpang berdiri, kereta itu jenis KRDI, Kereta Rel Diesel Indonesia. Dari namanya dapat ditebak, kereta itu digerakkan mesin diesel. Kereta jenis ini biasanya melayani rute jarak pendek, sekitar 20 hingga 30 kilometer dengan kecepatan maksimum 120 kilometer per jam.
Setiap gerbong punya empat pintu, termasuk ruang masinis. Pada tiap-tiap gerbong tertulis “KRDI-3 08209” dan “KRDI-3 08210”. Di dinding bagian dalam ada tulisan “Kelas-3, 64 Penumpang”.  “Dua gerbong kereta api ini sudah pernah dilakukan uji coba tahun 2011 lalu, dari stasiun ini (Bungkah) ke Stasiun Cot Seurani (Kecamatan Muara Batu).

sumber : 
bandaacehkotamadan

Tentang Kami

Calon Gubernur & Wakil Gubernur Provinsi Aceh Dari Partai Demokrat, Partai Nasional Aceh, Partai Damai Aceh, Partai Kebangkitan Bangsa untuk Periode 2017-2022